Lewat ke baris perkakas

Terpidana Mati Kasus Narkoba Egha Halim Masih Belum Dipindahkan Ke Nusa Kambangan

Barometermedan |

Medan – Terpidana mati kasus narkotika Egha Halim (48), hingga kini masih belum dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Nusa Kambangan seperti para napi kasus narkotika berat lainnya di Indonesia.

“Egha Halim sampai saat ini masih “bersinggasana” dan berpengaruh besar di Lapas Tanjung Gusta Medan, itu karena kemampuannya mengcancel pemindahan dirinya ke NK,” ujar sejumlah sumber wartawan, Minggu (06/09/2020).

Disebutkan, banyak kalangan kini menyoroti tentang pembiaran Egha Halim bertahan di Lapas Tanjung Gusta.

“Apa sih keistimewaan dari Egha Halim, sehingga dia terkesan dipertahankan di Lapas Tanjung Gusta tanpa adanya tanda tanda untuk di terbangkan ke NK. Apa pihak berwenang tidak mengambil pembelajaran, karena dia tak dipindahkan, Egha Halim yang sebelumnya dihukum seumur hidup, mencoba lagi merusak masa depan generasi bangsa dengan kajahatan narkobanya, dengan kembali mengendalikan peredaran puluhan ribu butir ekstasi, sehingga akhirnya dia ditangkap dari dalam Lapas dan dijatuhi vonis hukuman mati,” kata sumber.

Vonis hukuman mati, tampaknya tak juga menimbulkan efek jera bagi Egha Halim, dikalangan napi dia dikenal punya pengaruh dan disebut sebut menjadi bos besar dalam menjalankan bisnis haram judi onlinenya.

Sementara itu, Anggota Komisi III DPR RI Hinca Panjaitan mendesak Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia segera melakukan pemindahan napi bandar narkotika ke Lapas Nusa Kambangan, sebagai cara membatasi ruang geraknya dalam berbuat kejahatan selama di tahanan.

“Segera setelah putusan hakim dibacakan, penempatan para bandar ini tidak lagi pada lapas-lapas tempat kejadian mereka berperkara melainkan di lapas super maksimum Nusa Kambangan,” kata Hinca kepada wartawan baru baru ini.

Politisi Partai Demokrat itu mengakui, Kemenkumham memang sudah menindaklanjuti usulan tersebut dengan memindahkan ratusan bandar pada Juli 2020 lalu, namun,upaya serupa harus terus dilakukan dengan cepat.

” Kita harapkan Kemenkum HAM bekerja lebih serius, datalah para napi narkotika, yang kelas berat harus langsung di kirim ke Nusa Kambangan, sedangkan napi kelompok menengah ke bawah penempatannya di ruang khusus yang dijaga ketat dan dilengkapi alat jammer (penghilang sinyal),” katanya.

Menurutnya, Kunci dari peredaran narkotika di lapas adalah alat komunikasi, karena itu dengan matinya informasi, mungkin akan meminimalisir kegiatan peredaran,sehingga, upaya napi narkoba menjalankan bisnisnya di balik jeruji bisa diminimalkan.(Red)