70 Tahun di Dasar Laut Cirebon, Penemuan RI Gadjah Mada Ungkap Sejarah Perang Laut TNI AL Vs Belanda    

70 Tahun di Dasar Laut Cirebon, Penemuan RI Gadjah Mada Ungkap Sejarah Perang Laut TNI AL Vs Belanda    

Barometermedan | Cirebon ~ Sebuah kapal dagang dengan lambung dari kayu, disulap menjadi kapal perang TNI AL. Kapal itu bernama RI Gadjah Mada.

Dari berbagai sumber, RI Gadjah Mada disebut-sebut merupakan kapal jenis Coaster. Namun tidak diketahui persis seperti apa spesifikasinya.

Pada tahun 1947, tepatnya antara 1-5 Januari, kapal yang dikomandoi Letnan Laut Samadikun ini melakukan latihan gabungan Angkatan Laut dengan Angkatan Darat.

Letnan Laut Samadikun dengan RI Gadjah Mada menjadi pemimpin dalam latihan gabungan yang ikut melibatkan sejumlah kapal patroli penjaga pantai, yakni 2 unit kapal motor dengan nama Surapringga dan Antareja, 1 kapal tarik dengan nama Semar, dan 4 buah kapal patroli.

Pada 5 Januari 1947, iring-iringan kapal milik Indonesia itu berpapasan dengan kapal buru torpedo Belanda, HMS Kortenaer. Saat itu Indonesia sudah merdeka, namun Belanda tengah bersiap menggelar agresi militer untuk kembali menguasai wilayah RI.

Dengan pongah, Kapten Kapal HMS Kortenaer meminta konvoi kapal Indonesia untuk berhenti. Jelas saja Letnan Laut Samadikun menolaknya.

Tak ayal meriam-meriam HMS Kortenaer mulai menyalak. Samadikun mengambil langkah berani. Diperintahkannya empat kapal patroli menjauh ke Barat. Sementara RI Gadjah Mada sendiri justru berbelok dan menyongsong musuh.

Senapan mesin berat Oerlikon 20 mm RI Gadjah Mada terus diarahkan ke HMS Kortenaer. Namun meriam dan torpedo kapal perang Belanda itu jelas bukan tandingan RI Gadjah Mada.

Sebuah tembakan meriam tepat menghajar RI Gadjah Mada. Ruang mesin terbakar habis, Letnan Laut Samadikun gugur dalam pertempuran tak seimbang itu. Tak lama RI Gadjah Mada tenggelam ke dasar Laut Cirebon bersama Letnan Laut Samadikun.

Dalam pertempuran itu, Indonesia kehilangan satu kapal, tiga pahlawan gugur serta 26 prajurit menjadi tawanan Belanda. Sementara, aksi berani Letnan Laut Samadikun justru menyelamatkan empat kapal patroli lain. Letnan Laut Samadikun gugur demi menyelamatkan kawan-kawannya.

Pada 7 Januari 1947, jenazah Letnan Laut Samadikun ditemukan. Untuk menghormati jasa dan keberaniannya, pangkat Letnan Laut Samadikun dinaikkan secara anumerta menjadi Kapten Laut. Nama Samadikun kemudian diangkat sebagai nama kapal perang TNI AL era-70an, yakni Perusak Kawal Samadikun Class (Claud Jones Class).

Peristiwa karamnya RI Gadjah Mada ini diabadikan Pemerintah RI pada tahun 1951 dengan memberi nama destroyer pertama TNI AL, KRI Gadjah Mada.

KRI Gadjah Mada ini  merupakan bekas pakai AL Belanda dengan nama HrMs Tjerk Hiddes. Sayangnya usia pengabdian KRI Gadjah Mada tak panjang, kapal perang ini resmi di scrap pada 1961.

Dan kini, setelah 70 tahun berlalu, tepatnya pada 20 April 2018, bangkai RI Gadjah Mada dengan nomer lambung 408 itu berhasil ditemukan di Perairan Teluk Cirebon.

Penemuan ini menjadi momen bersejarah bagi perjuangan kemerdekaan RI, khususnya di lingkungan TNI AL. Pasalnya, 70 tahun silam, tepatnya pada 5 Januari 1947, RI Gadjah Mada di bawah komando Letnan Laut Samadikun mengwali pertempuran laut pertama RI dengan armada kapal perang Belanda.

Dikutip dari tnial.mil.id (21/4/2018), tim yang dipimpin Pasintel Lanal Cirebon berangkat menuju titik koordinat tenggelamnya RI Gadjah Mada dengan jarak tempuh dari dermaga Perniagaan Pelabuhan Cirebon 3,5 NM (sekitar 20 menit).

Pada pukul 09.15 Wib, tim penyelam Lanal Cirebon melaksanakan penyelaman dan berhasil menemukan serta mendokumentasikan bangkai RI Gadjah Mada pada posisi koordinat: 06 40 066 S – 108 35 847 E dengan kedalaman kurang lebih lima meter, dan memberikan tanda berupa derigen kosong serta memberi tanda pada haluan dan buritan kapal.

Berdasarkan keterangan tim penyelam Lanal Cirebon bahwa bentuk fisik dari kapal RI Gadjah Mada adalah jenis kapal cargo yang terbuat dari besi serta bentuk kapal sudah tidak utuh lagi dengan bangunan anjungan sudah tidak ada lagi, hanya haluan dan buritan yang masih terlihat bentuknya.

Adapun tujuan pencarian bangkai Kapal RI Gadjah Mada oleh Lanal Cirebon untuk menentukan titik koordinat bangkai kapal dan memberikan tanda agar pengguna jasa laut tidak mengalami kendala bernavigasi untuk melewati perairan tersebut akibat bangkai kapal yang belum diangkat.

Harapan dari Komandan Lanal Cirebon, Letkol Mar Yustinus Rudiman dengan ditemukannya bangkai kapal RI Gadjah Mada perlu adanya pengangkatan bangkai kapal tersebut guna kelancaran bernavigasi di laut dan dimungkinkan untuk dijadikan museum sebagai pengingat bahwa ada peristiwa bersejarah akan pertempuran laut di Cirebon.

Apabila tidak ada upaya pengangkatan bangkai kapal perlu adanya tanda navigasi (suar) sebagai tanda bahwa dilokasi tersebut terdapat bangkai kapal RI Gadjah Mada yang telah tenggelam akibat pertempuran Republik Indonesia melawan penjajahan Belanda serta untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur membela NKRI. (*)

 

 

sumber: indomiliter

Tags: , , , ,

No Responses

Comments are closed.

Lewat ke baris perkakas